Showing posts with label Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kesehatan. Show all posts

Sunday, September 15, 2013

Download Skripsi Kesehatan Gratis(Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Perawat)

Download Skripsi Kesehatan Gratis(Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Perawat)

Kewaspadaan Universal merupakan upaya pengendalian infeksi yang harus diterapkan dalam pelayanan kepada semua pasien, setiap waktu untuk mengurangi resiko infeksi yang di tularkan melalui darah. Dalam pengendalian infeksi penerapan KU merupakan hal yang sangat mendasar dalam asuhan keperawatan bagi setiap orang tanpa memandang status infeksinya. KU harus merupakan kegiatan rutin, perlu dilakukan penyediaan bahan dan alat yang cukup, pengawasan serta pemantauan untuk memastikan penerapan KU tersebut.

Setiap perawat secara pribadi harus menjaga hygiene perorang, selalu mencuci tangan dengan benar sebelum dan setelah melakukan tindakan. Selain itu perluh diperhatikan peralatan kesehatan telah melalui proses dekontaminasi, pencucian dan disinfeksi dengan baik dan benar. Limbah di pilih dan dikelolah sesuai peraturan, hindari kontak dengan darah dan cairan tubuh lainnya, cuci tangan segerah setelah menangani pasien dan benda yang tercemar. Semua perawat atau tim medis harus memahami dan menerapkan KU bagi semua pasien. Setiap saat dan dimana saja tanpa memandang status infeksi pasien (Nasronudin, 2007)

Rumah sakit Dr. Wahidin sudirohusodo Makassar merupakan Rumah sakit pusat rujukan yang mempunyai misi “menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna, berkualitas dan terjangkau” dan merupakan Rumah sakit pendidikan type A, Oleh karena rumah sakit Dr.WS merupakan pusat rujukan maka rumah sakit Dr.WS telah meningatkan kewaspadaan terhadap penyakit-penyakit infeksi menular. sehingga pada tahun 2007 Direktur rumah sakit DR. Wahidin Sudirohusodo telah membentuk Tim pengendali penyakit infeksi,untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial baik terhadap pasien maupun kepada petugas kesehatan. Di IRD rumah sakit Dr. wahidin sudirohusodo Makassar ini pun tenaga perawat merupakan tenaga terbanyak di antara tenaga kesehatan lainya,yaitu berjumlah 54 orang. Sehubungan dengan semakian banyaknya penyakt infeksi saat ini, maka pencegahan penularan ke tenaga perawat melalui penerapan standar pencegahan umum sangatlah penting.

Rumah sakit di Indonesia belum semua mempunyai prosedur tetap (protap) khusus tentang kewaspadaan universal, termasuk RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, walaupun sejak tahun 2007 telah terbentuk tim pengendali penyakit infeksi (PPI) tetapi sampai saat ini belum ada prosedur tetap khusus tentang kewaspadaan universal di tiap-tiap ruangan. Yang menjadi pedoman bagi perawat dalam menerapkan tindakan kewaspadaan universal.


Password: hzYbFQnH

Download Contoh Skripsi Kesehatan Gratis(Faktor-Faktor Kinerja Perawat)

Download Contoh Skripsi Kesehatan Gratis(Faktor-Faktor Kinerja Perawat)

Berbicara kinerja perawat berarti kita berbicara mengenai sumber daya manusia yang sudah terampil, handal dan profesional. Oleh karena itu, keterampilan, kehandalan, dan keprofesionalan kerja dari seorang perawat akan mampu menciptakan iklim kinerja rumah sakit yang lebih baik didukung manajemen rumah sakit itu sendiri serta unsur-unsur manajerial yang melingkupinya. (Soeroso, 2003)

Keberadaan rumah sakit yang memiliki manajemen dan pelayanan yang baik mulai menjadi pembicaraan di masyarakat, oleh karena pelayanan yang diberikan tidak memuaskan dari para penyelenggara pelayanan kesehatan, seperti adanya keluhan masyarakat terhadap pelayanan, tempat dan tarif yang tinggi. Dari ketiga hal tersebut, aspek pelayananlah yang paling banyak disoroti oleh masyarakat sebagai sesuatu hal yang mendasar bagi para konsumen.

Hasil survey peneliti pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Andi Makkasau Parepare terhadap kinerja perawat ditinjau dari aspek kedisiplinan masih banyak perawat yang belum dapat mentaati peraturan yang berlaku dalam institusi rumah sakit, seperti pelanggaran terhadap jadwal kerja, datang dan pulang tidak pada waktu yang telah ditentukan. Demikian pula dari hal fasilitas kerja yang kurang memadai, sebagai contoh alat untuk melakukan perawatan luka amat terbatas sehingga satu alat digunakan untuk beberapa pasien. Dalam hal kepemimpinan, kurangnya kemampuan manajerial terutama perencanaan dan reward yang diberikan oleh pemimpin membuat perawat merasa tidak diperhatikan dan bekerja hanya sebagai rutinitas.

Kinerja kurang juga dapat disebabkan karena adanya unsur dari luar diri tenaga perawat yang mempengaruhi psikologis sehingga menurunkan semangat kerja. Aspek yang berasal dari luar ini mencakup hubungan interpersonal dengan teman sejawat di tempat kerja, adanya konflik internal keorganisasiaan rumah sakit, kurangnya aspek motorik dari rumah sakit dalam rangka pemberian motivasi kepada tenaga perawat sehingga dapat melaksanakan tindakan asuhan keperawatan yang lebih berkualitas dan menjawab tuntutan masyarakat akan kebutuhan pelayanan. (Soeroso, 2003)

Untuk itu, maka peneliti tertarik untuk meneliti “Faktor-faktor yang berhubungan dengan kinerja perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Andi Makkasau Parepare”, dengan tujuan ingin menggali lebih dalam hal tersebut sehingga akan diperoleh input yang kelak akan membantu peningkatan mutu pelayanan rumah sakit, terutama pada peningkatan kinerja perawat yang terdapat di lingkup RSUD Andi Makkasau Parepare.


Password: OGeLgWVv


Wednesday, September 11, 2013

Download Skripsi Kesehatan Terbaru(Survei Kadar Hemoglobin)

Download Skripsi Kesehatan Terbaru(Survei Kadar Hemoglobin)

Penuaan adalah suatu proses alami yang tidak dapat dihindari, berjalan secara terus-menerus, dan berkesinambungan. Selanjutnya akan menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada tubuh sehingga akan mempengaruhi fungsi dan kemampuan tubuh secara keseluruhan. Ditandai dengan adanya kemunduran biologis yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, antara lain kulit mulai mengendur, timbul keriput, rambut beruban, gigi mulai ompong, pendengaran dan penglihatan berkurang, mudah lelah, gerakan menjadi lamban dan kurang lincah.

Menurut The National Old People’s Welfare Council di Inggris, penyakit atau gangguan umum pada lanjut usia ada 12 macam, salah satunya adalah anemia dan ini merupakan salah satu penyakit kelainan hematologi yang paling sering dijumpai pada lansia. Selain itu, dari hasil studi tentang kondisi sosial ekonomi dan kesehatan lanjut usia (Lansia) yang dilaksanakan Komnas Lansia di 10 propinsi tahun 2006, diketahui bahwa penyakit terbanyak yang diderita Lansia adalah penyakit sendi (52,3%), hipertensi (38,8%), anemia (30,7%) dan katarak (23 %), dikutip dari info Depkes 2008.

Anemia adalah salah satu penyakit kelainan hematologi yang paling sering dijumpai pada lansia. Prevalensinya meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Pendapat lain mengatakan bahwa menurunnya kadar hemoglobin (Hb) pada lansia adalah konsekuensi normal dari pertambahan usia, tapi hal ini telah dibantah oleh karena 80% penyebabnya telah diketahui. Dari suatu hasil studi terlihat bahwa pada kelompok lansia yang cukup sehat secara fisik dan sosioekonomi, anemia sangat jarang dijumpai. Prevalensi anemia pada lansia meningkat secara signifikan setelah usia 75 tahun. Insidensinya pada laki-laki lebih rendah dibandingkan perempuan sebelum usia 55 tahun, tetapi setelah usia 55 tahun anemia lebih sering dijumpai pada laki-laki. Penyebab anemia yang paling sering pada lansia adalah penyakit kronik dan defisiensi zat besi.

Selain itu ada juga data dari Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) “Budi Mulia 01” Cipayung, Jakarta timur pada tanggal 06 Juni 2006 tentang kondisi anemia pada lansia, dimana dari 100 orang lansia yang bersedia diambil darahnya hanya 86 orang sedangkan sisanya 14 orang tidak bersedia dengan berbagai alasan. Dan dari 86 orang lansia yang diperiksa ternyata sebanyak 40 orang mempunyai kadar hemoglobin (Hb) yang rendah, artinya lansia tersebut mengalami anemia. Kadar hemoglobin (Hb) yang rendah itu bervariasi, pada lansia laki-laki antara 10,0-12,5 g/dl sedangkan pada lansia wanita 10,0-11,5 g/dl. Namun ada juga 9 orang lansia yang mempunyai kadar hemoglobin (Hb) di bawah 10,0 g/dl.

Berdasarkan hal di atas, maka penulis tertarik ingin meneliti tentang “Survei Kadar Hemoglobin (Hb) pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha GAU MABAJI Kabupaten Gowa” dengan melakukan pemeriksaan kondisi fisik dalam hal ini difokuskan pada pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) untuk memberikan informasi tentang kondisi anemia pada lansia tersebut.


Password: 0BtgyDM4

Download Contoh Skripsi Kesehatan Terlengkap(Analisis Kepuasan pasien)

Download Contoh Skripsi Kesehatan Terlengkap(Analisis Kepuasan pasien) 

Perawat yang memiliki keterampilan berkomunikasi secara terapeutik tidak saja akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan klien, mencegah terjadinya masalah ilegal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi keperawatan serta citra rumah sakit, tetapi yang paling penting adalah mengamalkan ilmunya untuk memberikan pertolongan terhadap sesama manusia (Damaiyanti, 2008).

Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien (Indrawati, 2003 dalam Wahyudi, 2009). Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan professional (Arwani, 2003 dalam Wahyudi, 2009).

Komunikasi menjadi tidak efektif karena kesalahan dalam menafsirkan pesan yang diterimanya. Hal ini disebabkan karena setiap manusia mempunyai keterbatasan dalam menelaah informasi yang disampaikan. Hal ini juga sering terjadi pada institusi pelayanan kesehatan, misalnya pasien sering komplain karena tanaga kesehatan tidak mengerti maksud pesan yang disampaikan pasien, sehingga pasien tersebut menjadi marah dan tidak datang lagi mengunjungi pelayanan kesehatan tersebut (Wahyudi, 2009).

Dari hasil pengamatan peneliti di Ruang Lontara II RSUP DR Wahidin Sudirohusodo menunjukkan adanya keluhan-keluhan pasien terhadap pelayanan yang diberikan yang seharusnya bisa diatasi dengan komunikasi terapeutik perawat, terutama pasien yang membutuhkan masa perawatan yang lama menyebabkan keluarga dihantui dengan bermacam-macam stressor yaitu ketakutan akan kematian, ketidakpastian hasil, dan kekhawatiran akan biaya perawatan. Ketidakpuasan lain yang dikeluhkan pasien berkaitan dengan komunikasi antara lain disebabkan kurangnya kesempatan bagi pasien untuk lebih bebas bertanya tentang kondisi penyakitnya, keluhan-keluhan kadang tidak ditanggapi, dan tidak memberikan penjelasan yang tuntas tentang penyakit yang diderita.



Password: Ei5CX8DG


Download Skripsi Kesehatan Terlengkap(Hubungan Derajat Cacat Kusta)

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap(Hubungan Derajat Cacat Kusta)

Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks, bukan hanya dari segi medis, tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya keamanan dan ketahanan nasional (Depkes, 2006). Santoso et al. (2001) menyatakan bahwa harapan pasien yang berada dalam peran sakit, memutuskan mencari pengobatan dengan harapan yang akan diperoleh dari pengobatan, tentunya dalam hal ini yang diharapkan adalah kesembuhan dan terhindar dari cacat ataupun kematian.

Penderita penyakit kusta tersebar diseluruh dunia dan diperkirakan dua hingga tiga juta orang menderita kusta. Menurut data WHO, angka penemuan penderita kusta di dunia dengan kasus baru pada awal 2008 menurun tajam dimana tahun 2001 sebanyak 760 ribu menjadi 210 ribu kasus. Sedangkan di Indonesia, jumlah penderita baru tahun 2008 adalah 17.243 kasus.

Salah satu provinsi di Indonesia yang merupakan daerah dengan populasi penduduk yang tinggi adalah Sulawesi Selatan dimana penyakit kusta masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Pada tahun 2008 terdaftar sebanyak 1.148 penderita kusta pada Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan.

Di Rumah Sakit Dr. Tajuddin Chalid Makassar pada tahun 2009 yakni awal bulan januari sampai dengan akhir bulan September 2009 tercatat 1.867 penderita kusta dimana terdapat 632 kasus dengan kunjungan baru dan 1.234 kasus dengan kunjungan lama.

Berdasarkan permasalahan kusta tersebut diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan Judul “Hubungan Derajat Cacat Kusta terhadap motivasi berobat penderita kusta di Rumah Sakit Dr. Tajuddin Chalid Makassar”


Password: gzwQyp3D


Download Skripsi Kesehatan(Faktor Pneumonia Pada Balita)

Download Skripsi Kesehatan(Faktor Pneumonia Pada Balita)

Pneumonia merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, dan menjadi penyebab kematian nomor tiga di Indonesia setelah kardiovaskuler dan tuberkulosis. Tingginya kejadian pneumonia terutama menyerang kelompok usia bayi dan balita. Menurut data yang diperoleh melalui profil Kesehatan Kabupaten Kota se Provinsi Sulawaesi Selatan tahun 2007 tercatat jumlah kasus pneumonia sebanyak 42.563 penderita, dengan jumlah balita yang terkena pneumonia 14.576 balita dan yang tertangani hampir seluruh jumlah balita yang terkena pneumonia dengan jumah presentase 99,86%.

Oleh karena kejadian pneumonia merupakan salah satu penyakit dengan angka kesakitan dan angka kematian yang cukup tinggi, maka perlu penanganan yang terpadu, terarah yang ditujukan pada perbaikan mutu lingkungan atau keadaan perumahan serta pentalaksanaan penderita pada puskesmas/rumah sakit tetapi yang paling penting adalah pengawasan terhadap faktor-faktor resiko penularan pneumonia yaitu kondisi sekitar rumah dan keadaan lingkungan. (Madiana, 2003)

Penatalaksanaan penderita pneumonia diharapkan dapat dilakukan di Puskesmas dan rumah sakit, sehingga dapat menurunkan angka kematian akibat pneumonia. Untuk pencapain hal tersebut, maka perlu adanya pelatihan yang dapat meningkatkan kinerja petugas promosi kesehatan khususnya pneumonia terutama pada anak balita.Kejadian pneumonia dipengaruhi oleh faktor resiko intrinstik (umur, jenis kelamin, status gizi, status imunisasi) dan faktor ekstrinsik (biologi, fisik, sosial) tetapi belum dapat dipastikan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian pneumonia (Kartasasmita, 1993)

Dari data awal yang telah diperoleh pada RSUD Andi Makkasau Kota Parepare pneumonia menduduki peringkat pertama penyakit terbanyak yang diderita oleh balita maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di RSUD Andi Makkasau Kota Parepare. Hal ini dimaksudkan agar mempermudah pengambilan keputusan oleh pemerintah setempat dalam melakukan program kebijakan dan penanggulangan pneumonia dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.


Password: uYpqQNZR

Download Contoh Skripsi Kesehatan(perbedaan kekuatan otot penderita non-haemorhagic)

Download Contoh Skripsi Kesehatan(perbedaan kekuatan otot penderita non-haemorhagic)

Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tiba-tiba terganggu. Dalam jaringan otak, kurangnya aliran darah menyebabkan serangkaian reaksi bio-kimia, yang dapat merusakkan atau mematikan sel-sel otak. Kematian jaringan otak dapat menyebabkan hilangnya fungsi yang dikendalikan oleh jaringan itu. Stroke adalah penyebab kematian yang ketiga di Amerika Serikat dan banyak negara industri di Eropa (Jauch, 2005).

Stroke adalah serangan otak yang timbulnya mendadak akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak. Stroke merupakan satu masalah kesehatan paling serius dalam kehidupan modern saat ini. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena serangan stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat (www.vibizlife.com, 2008).

Delapan puluh persen penderita stroke mempunyai defisit neuromotor sehingga memberikan gejala kelumpuhan sebelah badan dengan tingkat kelemahan bervariasi dari yang lemah hingga berat, kehilangan sensibilitas, kegagalan sistem koordinasi, perubahan pola jalan dan terganggunya keseimbangan. Hal ini mempengaruhi kemampuannya untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari. Oleh karena itu setelah serangan stroke, penderita harus mempelajari kembali hubungan somatosensori baru atau lama untuk melakukan tugas-tugas fungsionalnya (Vitriana, 2008).

Data dari bagian rekam medik RSUP DR Wahidin Sudirohusodo Makassar menunjukkan bahwa jumlah pasien stroke tahun 2008 sebanyak 374 orang, dan sampai bulan Juni tahun 2009 sebanyak 152 orang penderita. Sedangkan data penderita Non Haemorhagic Stroke (NHS) menunjukkan jumlah pasien pada tahun 2008 sebanyak 200 orang penderita sedangkan pada tahun 2009 sampai bulan Juni sebanyak 74 penderita (Rekam Medik, 2009).

Dari uraian di atas, diperoleh gambaran bahwa demikian banyaknya penderita yang didiagnosa Non Haemoragic Stroke (NHS) dimana disertai dengan kelemahan pada otot-otot namun belum diketahui seberapa besar kelemahan otot tersebut baik pada fase akut maupun kronik, oleh karena itu peneliti merasa tertarik ingin melakukan penelitian tentang ”perbedaan kekuatan otot pada penderita non-haemorhagic stroke (NHS) di RSUP DR Wahidin Sudirohusodo Makassar”.

Download Contoh Skripsi Kesehatan(Analisis Sikap Pasien Kusta)

Download Contoh Skripsi Kesehatan(Analisis Sikap Pasien Kusta)


Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang masih menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis, tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya terdapat di negara–negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara itu dalam memberi pelayanan yang memadai dalam bidang kesehatan, pendidikan, kesejahteraan sosial dan ekonomi pada masyarakat. Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga, termasuk petugas kesehatan.

Menurut Word Health Organization (WHO) dalam Weekly Epidemiological Record bahwa Indonesia ditemukan 21.538 kasus, sedangkan di dunia kasus yang dilaporkan 312.036, dan jumlah kasus baru pada pertengahan tahun 2008 dilaporkan dari 121 negara sebanyak 249.007 kasus (Weekly Epidemiological Record, 2009).

Rumah sakit Dr Tadjuddin Chalid Makassar merupakan rumah sakit kusta regional untuk kawasan Indonesia bagian timur. Pada tahun 2007 dengan jumlah penderita rawat jalan 1749 orang, rawat inap 867 orang dengan tingkat kecacatan tangan 1085 orang, kaki 1267 orang, mata 228 orang. Pada tahun 2008 dengan jumlah penderita rawat jalan 1813 orang, rawat inap 968 orang, dengan tingkat kecacatan tangan 1005 orang, kaki 1077 orang dan mata 33 orang (P2 Kusta RSK Daya, 2008).

Berdasarkan naskah akademik peningkatan status rumah sakit kusta regional Makassar tercatat pasien kusta dengan tipe Lepromatous Borderline (BL) dari tahun 2005 sampai tahun 2007 memiliki persentase yang cukup tinggi, dibandingkan dengan tipe lainnya. Walaupun tipe ini pada tahun 2007 mengalami penurunan jumlah dari 344 menjadi 325 pada tahun 2006 namun masih mengkhawatirkan, hal ini menunjukan bahwa kesadaran mereka untuk segera berobat sedini mungkin masih sangat kurang, selain itu juga karena pengetahuan mereka untuk mengenal gejala awal masih sangat kurang sehingga mereka terlambat untuk datang berobat.

Penderita kusta dengan gejala dini belum menderita cacat dan kalau segera diobati proses penyakitnya terhenti dan penyakitnya sembuh tanpa cacat. Jadi cacat kusta dapat dicegah dengan segera memulai pengobatan sebelum cacat timbul karena kerusakan saraf perifer yang permanen (Amirudin, 2001). Bertolak dari latar belakang, penulis tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan dan sikap pasien kusta dengan upaya pencegahan kecacatan penyakitnya.


Password: lJeACvzs

Download Contoh Skripsi Kesehatan(Faktor Hubungan Kejadian ISPA)

Download Contoh Skripsi Kesehatan(Faktor Hubungan Kejadian ISPA)

ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) masih merupakan masalah kesehatan yang penting, karena ISPA (seperti ; sinusitis, common cold, influenza, pneumonia) penyebab kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4 kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya. 40 % - 60 % dari kunjungan di Puskesmas adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh ISPA mencakup 20 % -30 %. Kematian yang terbesar umumnya adalah karena pneumonia dan terjadi pada bayi berumur kurang dari 2 bulan. Hingga saat ini angka mortalitas ISPA yang berat masih sangat tinggi. Kematian seringkali disebabkan karena penderita datang untuk berobat dalam keadaan berat.

Dari pola 10 penyakit terbanyak di beberapa rumah sakit umum di Indonesia maupun data survey (SDKI, Surkesnas) juga menunjukkan tingginya kasus ISPA. Prevalensi ISPA dalam beberapa tahun menurut hasil SDKI yaitu pada tahun 1991 terjadi prevalensi 9,8% dengan kelompok umur 12 – 23 bulan, tahun 1994 terjadi prevalensi 10% dengan kelompok umur 6 – 35 bulan, tahun 1997 terjadi prevalensi 9% dengan kelompok umur 6 – 11 bulan, tahun 2002-2003 terjadi prevalensi 8% dengan kelompok umur 6 – 23 bulan, dan pada tahun 2007 terjadi prevalensi 11% dengan kelompok umur 12 – 23 bulan (Depkes RI, 2007).

Dan dari hasil data kunjungan Puskesmas Salotungo, Kab. Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan survey dalam kasus pola 10 penyakit terbesar Puskesmas Salotungo tahun 2008 pun menunjukkan bahwa angka kesakitan yang paling tinggi ditimbulkan oleh ISPA dengan jumlah 1950 kasus dengan persentase sekitar 29,03% dari jumlah kasus pola 10 penyakit terbesar.

Dari olah data kunjungan kasus ISPA Balita dengan usia 39 – 59 bulan menunjukkan bahwa terdapat 75 kunjungan kasus atau sekitar 27,29% dari seluruh kejadian ISPA di Puskesmas SalotungotaTahun 2008 yang dialami oleh Balita.

Dari hasil uraian diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa ISPA merupakan masalah kesehatan utama yang ada ditengah masyarakat baik ditingkat nasional maupun tingkat kabupaten/kota, khususnya diwilayah kerja Puskesmas Salotungo sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA pada Balita.


Password: hDk54bvG

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap(Pengaruh Teknik Relaksasi)

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap(Pengaruh Teknik Relaksasi)

Setiap individu pernah mengalami nyeri dalam tingkatan tertentu. Nyeri merupakan alasan yang paling umum orang mencari perawatan kesehatan. Nyeri bersifat subyektif dan tidak ada individu yang mengalami nyeri yang sama. Untuk itu perawat perlu mencari pendekatan yang paling efektif dalam upaya pengontrolan nyeri. Nyeri merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa pemeriksaan diagnostik, pembedahan dan pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun.

Salah satu ketakutan terbesar klien bedah adalah nyeri, padahal nyeri setelah pembedahan adalah hal yang normal. Untuk itu perawat perlu memberikan informasi pada klien dan keluarga klien tentang terapi yang tersedia untuk menghilangkan nyeri diantaranya latihan relaksasi. Klien harus mengetahui lamanya waktu yang diperlukan obat untuk bekerja dan seringkali tidak semua rasa tidak nyaman tersebut bisa hilang sama sekali dengan menggunakan obat analgetik (Potter, 2005).

Teknik relaksasi merupakan metode yang dapat dilakukan terutama pada pasien yang mengalami nyeri, merupakan latihan pernafasan yang menurunkan konsumsi oksigen, frekuensi pernafasan, frekuensi jantung dan ketegangan otot yang menghentikan siklus nyeri, ansietas dan ketegangan otot. Teknik relaksasi perlu diajarkan bebarapa kali agar mencapai hasil yang optimal dan perlunya instruksi menggunakan teknik relaksasi untuk menurunkan atau mencegah meningkatnya nyeri.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Medical Record Di Perawatan Bedah RSU TK II Pelamonia Makassar jumlah pasien yang menderita apendicitis akut dan yang mendapat tindakan apendiktomi yang tahun 2007 sebanyak 293 pasien dan meningkat pada tahun 2008 sebanyak 378 pasien. Selain itu pula apendisitis merupakan kasus terbanyak dari kasus bedah pencernaan lainya. Untuk itu perlunya perhatian khusus baik pada saat pra operasi maupun post operasi apendiksitis terutama dalam hal meminimalkan intensitas nyeri serta komplikasinya.

Dari hasil survey sementara yang dilakukan oleh peneliti Di Perawatan Bedah RSU TK II Pelamonia Makassar, umumnya perawat tidak melakukan teknik relaksasi pada pasien yang mengalami nyeri khususnya pasien post operasi apendiktomi karena perawat hanya melaksanakan instruksi dokter berupa pemberian analgetik. Sehingga pasien masih mengalami gangguan rasa nyaman nyeri pada saat reaksi analgetik telah hilang.

Mengingat betapa pentingnya pentingnya penatalaksanaan tindakan nonfarmakologis dalam perubahan intensitas nyeri pada pasien post operasi apendiktomi maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Teknik Relaksasi Terhadap Perubahan Intensitas Nyeri Pada Pasien Post Operasi Apendiktomi Di Perawatan Bedah RSU TK II Pelamonia Makassar”.


Password: sUnLGlBf

Tuesday, September 10, 2013

Download Contoh Skripsi Kesehatan Terlengkap(Faktor Kunjungan Balita)

Download Contoh Skripsi Kesehatan Terlengkap(Faktor Kunjungan Balita)

Posyandu merupakan wadah untuk mendapatkan pelayanan dasar terutama dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana yang dikelola oleh masyarakat, penyelenggaraanya dilaksanakan oleh kader yang telah dilatih dibidang kesehatan dan KB, dimana anggotanya berasal dari PKK, tokoh masyarakat dan pemudi. Posyandu sebagai upaya kesehatan berbasis masyarakat apabila kita amati akhir-akhir ini seperti telah kehilangan keterpaduannya, sehingga persepsi masyarakat bahwa posyandu hanya sebagai pos penimbangan balita. Hal ini cukup beralasan karena keberadaan posyandu di tengah-tengah masyarakat hanya dapat dimanfaatkan untuk mengetahui tumbuh kembang anak secara dini.

Salah satu upaya untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian anak balita adalah dengan melakukan pemeliharaan kesehatannya. Pemeliharaan kesehatan anak balita dititik beratkan kepada upaya pencegahan an peningkatan kesehatan dan pada pengobatan dan rehabilitasi. Pelayanan kesehatan anak balita ini dapat dilakukan dipuskesmas, puskesmas pembantu, polindes terutama di posyandu. Saat ini posyandu sangat primadona. Pemerintah Indonesia dengan kebijakan Kepmenkes mengupayakan untuk mengaktifkan kembali kegiatan di posyandu, karena posyandulah tempat paling cocok untuk memberikan pelayanan kesehatan pada balita secara menyeluruh dan terpadu.

Salah satu upaya untuk mengetahui kondisi gizi balita adalah dengan membawa anak ke posyandu untuk dilakukan penimbangan walaupun sudah tidak lagi mendapatkan imunisasi dan makanan tambahan dari petugas kesehatan. Penimbangan balita dilakukan setiap bulan mulai umur 1 tahun sampai 5 tahun di Posyandu (Haryamin, 2009).

Kesadaran masyarakat yang kurang akan pentingnya peran posyandu menyebabkan terhambatnya proses pelayanan kesehatan yang baik bagi para balita, karena posyandu di Indonesia banyak yang tidak berfungsi sehingga menyebabkan temuan balita bergizi buruk (Trihono, 2005).


Password: kvkj08tX


Download Contoh Skripsi Kesehatan Terlengkap(Analisis Kepatuhan Melaksanakan Antenatal+care)

Download Contoh Skripsi Kesehatan Terlengkap(Analisis Kepatuhan Melaksanakan Antenatal+care)



Periode prenatal atau antenatal adalah periode persiapan, baik secara fisik,yakni pertumbuhan janin dan adaptasi maternal maupun psikologis,yakni antisipasi menjadi orang tua (Bobak, Lowdermilk, & Jensen 2005). Asuhan antenatal care secara nyata mempunyai dampak positif terhadap penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi. Asuhan antenatal sesungguhnya meliputi cakupan, jumlah pemeriksaan dan mutu pemeriksaan. Dengan adanya pemeriksaan antenatal diharapkan wanita hamil mengungkapkan keluhan yang dialami sehingga petugas kesehatan memberikan informasi yang akurat.

Antenatal care dimulai segera setelah tidak mendapat haid (menstruasi) untuk memastikan kesehatan ibu hamil tersebut dan bayinya. Wanita hamil yang memeriksakan kehamilannya dengan lengkap adalah kunjungan pertama (K1), kunjungan kedua (K2) , kunjungan ketiga (K3) ,dan kunjungan keempat (K4) (Prawirohardjo & Wiknjosastro, 2008).

Sesuai hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti antara lain penelitian tentang Faktor – faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pelaksanaan antenatal care pada ibu hamil di Puskesmas Barana Kecamatan Barat Kabupaten Jeneponto dengan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tidak berhubungan dengan kepatuhan dimana responden yang patuh melaksanakan ANC lebih banyak memiliki pendidikan rendah yaitu 34 orang dibanding pendidikan tinggi sebanyak 16 orang. Responden yang tidak patuh melaksanakan ANC lebih banyak memiliki tingkat pendidikan tinggi yaitu 4 orang (Lanja, 2006).

Sedangkan penelitian lain di Puskesmas Tabaringan Kota Makassar dengan metode kwantitatif, tentang factor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas Tabaringan Kota Makassar, mengemukakan bahwa dari 42 responden menunjukan bahwa dukungan keluarga tidak berhubungan dengan kepatuhan dalam melaksanakan ANC di mana terdapat 28 orang yang memiliki dukungan keluarga cukup 19 orang yang patuh, dan 9 orang tidak patuh melakukan pemeriksaan kehamilan. Sedangkan responden yang kurang mendapat dukungan dari keluarga sebanyak 14 orang yang memiliki kepatuhan 8 orang dan yang tidak patuh 6 orang (Karoma, 2009).

Menurut keterangan beberapa ibu hamil yang berkunjung di puskesmas batua bahwa mereka memeriksakan kehamilan jika merasa mual dan muntah yang sangat mengganggu, kemudian yang ibu lebih dari dua anak, kadang datang sudah pada umur kehamilan lebih dari 14 minggu hal ini di sebabkan karena kurangnya pengetahuan. Sesuai dengan data tersebut di atas maka ibu hamil memeriksakan diri tidak sesuai dengan umur kehamilan sehingga peneliti ingin melaksanakan penelitian dengan judul “Studi kualitatif tentang Analisis Kepatuhan melaksanakan ANC pada ibu hamil di wilayah Puskesmas Batua Makassar.


Password: HLGxGJFb

Tuesday, August 27, 2013

Download Skripsi Kesehatan Gratis

Download Skripsi Kesehatan Gratis

Analisis faktor yang mempengaruhi kekambuhan (relaps) pada pengguna NAPZA yang mendapatkan layanan pasca konselin di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar

Terapi perawatan penyalahguna NAPZA harus menggunakan pendekatan holistik (holistic approach) yaitu tidak hanya mengobati fisik (jasmani) tetapi juga kejiwaan, sosial dan keimanan (bio,psiko,sosio dan spiritual). Sebagaimana diketahui bahwa penyalahgunaan NAPZA merupakan bagian dari bidang psikiatri, hal ini dikarenakan penyalahgunaan NAPZA dapat menimbulkan gangguan mental dan perilaku. Kejadian ini disebabkan oleh karena NAPZA dapat mengganggu system neurotransmitter dalam susunan saraf pusat (otak).
Kekambuhan (relaps) pada penyalahguna NAPZA disebabkan karena adiksi sebagai suatu penyakit yang bersifat kronis atau akut. Studi kepustakaan menunjukkan bahwa angka kekambuhan cukup tinggi yaitu 43,9% (Hawari, 2006). Dari mereka yang kambuh ada tiga faktor utama sebagai penyebabnya yaitu faktor teman 58,36%, faktor sugesti 23,21% dan faktor frustasi dan stress 18,43% (Hawari,2006).
Dalam rangka menekan laju perkembangan penyalahgunaan NAPZA dan membantu merehabilitasi korban NAPZA, maka Pemerintah sulsel sejak tahun 2007 atas prakarsa gubernur untuk mendirikan program perumahan terapi metadon di Puskesmas Kassi Kassi bagi Penyalahgunaan NAPZA yang telah beroperasi sejak tahun 2007. merupakan tempat penelitian yang dipilih oleh peneliti untuk melakukan penelitian dimana jumlah pasien saat ini 30 orang. Data ini diperoleh berdasarkan hasil study pendahuluan pada tanggal 16 Juni 2009.
Adapun sistem yang di gunakan oleh Puskesmas Kassi Kassi adalah dengan memberikan program perumahan terapi metadon dengan disertai (therapeutic community) yaitu suatu program layanan konseling bagi para pecandu narkoba, program ini memfokuskan untuk membangun suatu pribadi yang dapat kembali hidup ditengah–tengah masyarakat dengan mental, emosi dan jiwa yang positif agar dapat bersosialisasi dengan dukungan dari diri sendiri dengan lingkungan yang positif dan teman senasib dan sepenanggungan. Semua usaha dan program yang dilaksanakan pada akhirnya dapat mengantarkan seseorang mantan pecandu untuk terbebas dari lingkungan NAPZA, mampu hidup sehat dan terbebas dari NAPZA (clean and sober) serta kualitas hidup yang positif.
Silahkan download Skripsi Kesehatan Gratis dilink berikut Analisis faktor yang mempengaruhi kekambuhan (relaps) pada pengguna NAPZA yang mendapatkan layanan pasca konselin di Puskesmas Kassi Kassi Kota Makassar  

Password: XXeq8Mal


Rujukan: http://www.4skripsi.com

Download Contoh Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Gratis

Download Contoh Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Gratis

Faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan dokumentasi asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSIA Siti Fatimah Makassar

Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan keperawatan, karena melalui pendokumentasian yang baik, maka informasi mengenai keadaan kesehatan pasien dapat diketahui secara berkesinambungan. Dokumentasi proses keperawatan merupakan sarana komunikasi antara perawat dan tim kesehatan dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan. Disamping itu, dokumentasi merupakan dokumen legal tentang pemberian asuhan keperawatan secara lebih spesifik. Dokumentasi berfungsi sebagai sarana komunikasi antara profesi kesehatan, sebagai sumber data untuk pemberian asuhan keperawatan, dan sumber data untuk penelitian.
Dokumentasi dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien berdasarkan masalah terdiri dari format pengkajian, rencana keperawatan, catatan tindakan keperawatan dan catatan perkembangan pasien. Dokumentasi sangat penting untuk seorang pasien, apalagi bagi pasien sedang mendapatkan pelayanan intensif. Hal ini disebabkan karena kondisi pasien perlu diketahui secara berkesinambungan untuk mengetahui perkembangan dan keadaan penyakit pasien.
Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan di rumah sakit pemerintah menyusun standar pelayanan di rumah sakit yang diberlakukan melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 436/MENKES/SK/VI/1993 dan standar asuhan keperawatan yang diberlakukan melalui SK Dirjen Pelayanan Medik No. YM.00.03.2.6.7637 tahun 1993. Standar tersebut berlaku dimanapun asuhan keperawatan dilakukan dan berfungsi sebagai alat ukur untuk mengetahui, memantau, dan menyimpulkan apakah pelayanan/asuhan keperawatan yang diselenggarakan di rumah sakit sudah sesuai dengan standar yang ada. Namun pada kenyataannya sesuai dengan hasil observasi dan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, di Makassar masih banyak rumah sakit yang tidak mempunyai standar operasional prosedur yang sesuai dengan standar yang diberlakukan oleh departemen kesehatan, terutama rumah sakit RSIA Siti Fatimah (Departemen kesehatan RI 2001).
Dengan melihat kondisi tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan pendokumentasian di Ruang rawat inap RSIA Siti Fatimah Makassar Tahun 2009.
Selengkapnya silahkan download contoh skripsi kesehatan terlengkap dan gratis dilink berikut Faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan dokumentasi asuhan keperawatan di ruang rawat inap RSIA Siti Fatimah Makassar  

Password: 9uefd09B


Rujukan: http://www.4skripsi.com/

Monday, August 26, 2013

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Gratis

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Gratis

Pengaruh penerapan asuhan keperawatan pada klien halusinasi terhadap kemampuan klien mengontrol halusinasi di RSKD. Dadi Makassar


Keperawatan jiwa dihadirkan sebagai upaya menuntaskan tujuan kesehatan nasional yang merupakan bagian dari kesehatan jiwa, dan sebagai spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya. Perawat jiwa dalam bekerja memberikan stimulus konstruktif kepada klien (individu, keluarga, kelompok, dan komunitas) dan membantu berespon secara konstruktif sehingga klien belajar cara penyelesaian masalah. Selain menggunakan diri sendiri secara terapeutik, perawat juga menggunakan terapi modalitas dan komunikasi terapeutik.
Perawat jiwa menggunakan pendekatan pada pasien melalui suatu proses keperawatan yang merupakan metode ilmiah dalam menjalankan asuhan keperawatan dan penyelesaian masalah secara sistematis yang digunakan oleh perawat. Dimana penerapan proses keperawatan dapat meningkatkan otonomi, percaya diri, cara berpikir logis, ilmiah dan sistematis, memperlihatkan tanggung jawab dan tanggung gugat, serta pengembangan diri perawat. Disamping itu, klien dapat merasakan mutu pelayanan keperawatan yang lebih baik dan berperan aktif dalam perawatan diri, serta terhindar dari malpraktik.
Penerapan asuhan keperawatan secara sistematis salah satunya dilakukan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori: halusinasi. Halusinasi adalah gangguan penyerapan (persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat meliputi semua sistem penginderaan di mana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh/baik. Menurut May Durant Thomas (1991), dalam Andre (2009) halusinasi secara umum dapat ditemukan pada pasien gangguan jiwa seperti: Skhizofrenia, Depresi, Delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lingkungan. Dan berdasarkan hasil pengkajian pada pasien di beberapa rumah sakit jiwa di Pulau Jawa ditemukan 85% pasien dengan kasus halusinasi.
Berdasarkan hasil rekapitulasi data tahun 2008 di RSKD. Dadi Makassar, terhitung jumlah pasien dengan gangguan halusinasi sebanyak 5.264 orang pasien (49,52 %), menarik diri sebanyak 2.105 orang pasien (25%), dan harga diri rendah sebanyak 1.653 orang pasien (10%). Dengan jumlah pasien gangguan halusinasi laki-laki 3.312 orang pasien (tidak termasuk pasien di ruang Ketapang), perempuan 1.792 orang pasien (tidak termasuk pasien ruang Ketapang), sedangkan di ruang Ketapang jumlah pasien dengan gangguan halusinasi 165 orang pasien. Dan tercatat total jumlah pasien di RSKD. Dadi Makassar adalah 10.267 orang pasien.
Proses keperawatan di rumah sakit jiwa, memiliki masalah yang hampir sama dengan rumah sakit umum. Ditemukan beberapa kesulitan dalam penerapan asuhan keperawatan, yaitu belum ada formulir pengkajian yang seragam, kemampuan melaksanakan proses keperawatan yang belum memadai, pelaksanaan proses keperawatan masih dirasakan sebagai beban (Keliat & Akemat, 2004). Masalah inipun terjadi di RSKD. Dadi Makassar khususnya di ruang rawat intermediated, dari hasil wawancara dengan beberapa perawat dijelaskan bahwa pelaksanaan penerapan asuhan keperawatan belum terlaksana dengan maksimal dikarenakan tenaga perawat yang tidak seimbang dengan jumlah pasien.
Berdasarkan hasil penelitian Kosegeren (2006), didapatkan hasil penelitian pada penerapan asuhan keperawatan klien halusinasi. Bahwa, terjadi peningkatan skor kemampuan klien mengontrol halusinasi pada kelompok eksperimen, sedangkan pada kelompok kontrol tidak terjadi peningkatan skor kemampuan mengontrol halusinasi. Dan pada penelitian Budi (2008), didapatkan hasil gambaran responden mampu mengontrol halusinasi dengan teknik menghardik rerata dicapai hari keduabelas.
Silahkan download skripsi kesehatan terlengkap dan gratis dilink berikut Pengaruh penerapan asuhan keperawatan pada klien halusinasi terhadap kemampuan klien mengontrol halusinasi di RSKD. Dadi Makassar 

Password: RxF7GEFL

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Terbaru

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Terbaru

Hubungan antara indeks prestasi lulusan AKPER Pemda Kabupaten Wajo dengan kinerja perawat di RSUD Lamaddukkelleng Sengkang

Selama ini belum pernah dilakukan evaluasi yang terstruktur dan sistematis terhadap kinerja lulusan Akper Pemda Kabupaten Wajo. Sehingga belum ada acuan untuk penetapan kurikulum institusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, akibat belum jelasnya kelompok mata kuliah mana yang lebih relevan terhadap kinerja lulusan. Hasil penilaian kerja perawat di RSUD Lamaddukkelleng Sengkang hanya terdapat dalam Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) untuk PNS, yang hanya dinilai dari pimpinan.
Walaupun belum ada penelitian secara terperinci tentang kinerja perawat lulusan Akper Pemda Kabupaten Wajo, namun ditemukan keluhan beberapa perawat senior tentang kinerja lulusan. Menurut informasi yang didapatkan di RSUD Lamaddukkelleng Sengkang kinerja perawat hingga kini masih kurang baik. Perawat tersebut menunjukan sikap yang negatif terhadap standar kerja, dan bersikap pasif terhadap prinsip-prinsip yang diyakini, serta melakukan usahausaha yang minimal dalam mempertahankan kualitas kerjanya. Perilaku kerja yang diperlihatkan perawat antara lain datang dan pulang sebelum waktunya, meninggalkan ruangan saat jam kerja, kurang inisiatif melakukan pendekatan kepada pasien, pendokumentasian asuhan keperawatan yang kurang optimal dan kurang dapat bekerjasama antar teman sejawat.
Keberhasilan lulusan dalam menempuh pendidikan selama menjadi mahasiswa secara umum dinyatakan dalam indeks prestasi (Depkes, 1999. Dikutip Nursalam, 2007). Selama 5 tahun ini telah dilakukan evaluasi terhadap indeks prestasi lulusan Akper Pemda Kabupaten Wajo. Hasil dari evaluasi tersebut, sebagian besar berpredikat memuaskan (Dokumentasi Akper Pemda Kabupaten Wajo, 2008).
Pasar kerja sendiri sering menyebutkan bahwa besarnya tingkat kegagalan pada tes akademik merupakan bukti bahwa nilai Indeks Prestasi bukanlah jaminan bahwa lulusan dengan nilai yang baik akan mampu bersaing. Kegagalan psikotes umumnya diakibatkan kurangnya kemandirian para pelamar sehingga belum siap menghadapi dunia kerja yang menuntut kemandirian dan kemampuan menempatkan diri sendiri. Hal ini tentunya merupakan peringatan bagi perguruan tinggi apakah sistem evaluasi yang hasilnya dituangkan dalam transkrip nilai mampu mencerminkan kemampuan.
Ditempat kerjanya seorang perawat harus bertanggung gugat terhadap pemberian perawatan yang berkualitas tinggi (Bastable, 2002). Hal itu tentunya tidak terlepas dari pendidikan tinggi keperawatan sebagai sarana mencapai profesionalisme. Sesuai dengan hakekatnya sebagai pendidikan profesi, maka kurikulum pendidikan tinggi keperawatan disusun berdasarkan lingkup konsep pendidikan yang kokoh mencakup penguasaan IPTEK keperawatan, menyelesaikan masalah secara ilmiah, sikap, tingkah laku dan kemampuan profesional, belajar sendiri dan mandiri, serta belajar dimasyarakat.
Sebagai langkah awal untuk melaksanakan hal tersebut diatas maka peneliti tertarik melakukan penelitian hubungan antara indeks prestasi lulusan Akper Pemda Kabupaten Wajo dengan kinerja perawat di RSUD Lamaddukkelleng Sengkang.
Silahkan download Skripsi kesehatan terlengkap dan terbaru dilink berikut Hubungan antara indeks prestasi lulusan AKPER Pemda Kabupaten Wajo dengan kinerja perawat di RSUD Lamaddukkelleng Sengkang  

Password: a1PiDQEj



Rujukan: http://www.4skripsi.com/

Download Skripsi Kesehatan Paling Lengkap dan Gratis

Download Skripsi Kesehatan Paling Lengkap dan Gratis

Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial di Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan

Salah satu gangguan jiwa yang paling banyak diderita adalah gangguan dengan isolasi sosial. Gangguan isolasi sosial adalah gangguan hubungan interpersonal yang terjadi akibat adanya kepribadian yang tidak fleksibel yang menimbulkan perilaku maladaptif dan mengganggu fungsi seseorang dalam berhubungan. Isolasi sosial merupakan salah satu gejala psikosis yang dialami penderita gangguan jiwa skizofrenia. Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak yang dapat menyebabkan timbulnya perubahan kepribadian seperti menarik diri, tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam bahkan dapat menyebabkan terjadinya narkisisme yaitu harga diri yang rapuh.
Gangguan isolasi sosial yang tidak mendapat perawatan lebih lanjut dapat menyebabkan klien makin sulit dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain, sehingga klien menjadi regresi, mengalami penurunan dalam aktivitas, dan kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kebersihan diri bahkan bisa berlanjut menjadi halusinasi yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Penatalaksanaan keperawatan klien dengan isolasi sosial selain dengan pengobatan psikofarmaka juga dengan pemberian terapi modalitas yang salah satunya adalah Terapi Aktifitas Kelompok (TAK). Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat pada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama. Aktifitas digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target asuhan.
Terapi Aktivitas Kelompok sangat efektif mengubah perilaku karena di dalam kelompok terjadi interaksi satu dengan yang lain dan saling mempengaruhi. Dalam kelompok akan terbentuk satu sistem sosial yang saling berinteraksi dan menjadi tempat klien berlatih perilaku baru yang adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif.
TAK dibagi sesuai dengan masalah keperawatan klien, salah satunya adalah TAK Sosialisasi. TAK Sosialisasi adalah upaya memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. Dengan TAK sosialisasi maka klien dapat meningkatkan hubungan sosial secara bertahap dari interpersonal (satu dan satu), kelompok dan masyarakat.
Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok Sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial guna membantu klien dalam menangani masalah kesehatan yang dihadapi melalui penerapan asuhan keperawatan dalam bentuk Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) Sosialisasi.
Silahkan download skripsi kesehatan paling lengkap dan gratis dilink berikut Pengaruh Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) sosialisasi terhadap kemampuan pasien berinteraksi sosial di Rumah Sakit Khusus Daerah Dadi Provinsi Sulawesi Selatan  

Password: fwpcgQVJ

Download Skripsi Keperawatan Terlengkap dan Gratis

Download Skripsi Keperawatan Terlengkap dan Gratis

Faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi mahasiswa Ners B angkatan 2008 untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Indikator mutu seorang perawat adalah derajat pendidikan, pengetahuan, sikap, keterampilan, dan motivasi. Semakin tinggi derajat mutu SDM karyawan/perawat semakin tinggi pula produktifitas kerjanya. Derajat mutu itu tidak dilahirkan secara alami tetapi dibentuk. Salah satu jalan yang harus ditempuh manajemen tenaga kerja yang sekaligus merupakan salah satu fungsinya adalah memberikan kesempatan kepada karyawan/perawat mengikuti pendidikan dan pelatihan baik melalui jalur formal maupun non formal secara terencana dan berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan karyawan/perawat.
Terbatasnya jumlah tenaga profesional keperawatan yang berpendidikan setingkat Sarjana menurut peneliti disebabkan oleh kurangnya motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi. Yang dimaksud dengan motivasi disini adalah merupakan dorongan yang membuat seseorang/perawat melakukan sesuatu dengan cara dan untuk mencapai tujuan tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi setiap individu yaitu intrinsik yang berasal dari dalam diri seseorang dan berkaitan dengan isi pekerjaan, seperti tuntutan, kebutuhan, rasa tanggung jawab, tujuan pribadi dan lain-lain. Ekstrinsik yang berasal dari luar, seperti suasana kerja, gaji, kebijakan organisasi dan lainlain.
Motivasi untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi menurut peneliti kemungkinan berhubungan dengan faktor usia, jenis kelamin, status perkawinan dan dukungan atasan. Banyak lulusan Diploma keperawatan yang mengalami phobia untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK) atau Program Study Ilmu Keperawatan (PSIK) karena merasa untuk lulus seleksi saja sangat sulit. Terlebih lagi perkuliahan yang harus dijalani sangat padat, berat dan cukup melelahkan. Issue inilah yang kemungkinan membuat mereka merasa kalah sebelum bertanding.
Demi peningkatan SDM, pihak manajemen Rumah Sakit memberi kesempatan karyawan/perawat untuk melamjutkan pendidikan atau karena dasar kebutuhan individu perawat untuk bisa tetap bertahan berada dilingkungan institusi kesehatan, baik di Rumah sakit atau institusi pendidikan keperawatan. Dari uraian diatas peneliti bermaksud untuk mengidentifikasi motivasi perawat untuk melanjutkan pendidikan melalui jenjang pendidikan S1 Keperawatan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi tersebut.
Password: rfJkJaqm


Download Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Gratis

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Gratis 

Analisa hubungan body image dengan mekanisme koping yang digunakan pada pasien kusta di Rumah Sakit Dr.Taddjuddin Chalid Makassar

Penyakit kusta bagi sebagian orang, khususnya orang yang belum mengerti dengan jelas mengenai penyakit ini merupakan suatu penyakit yang sangat menakutkan. Penyakit kusta sendiri dapat menimbulkan masalah yang sangat kompleks oleh karena adanya ulserasi, mutilasi dan demormitas yang disebabkan sehingga menimbulkan banyak permasalahan, bukan saja dari segi medis atau kesehatan tetapi juga dari segi mental, sosial, psikologi, dan ekonomi bagi pasien, sehingga memerlukan penanganan yang serius.
Dari sekian banyak permasalahan yang muncul masalah psikologis merupakan masalah yang paling serius bagi penderita kusta. Dengan kondisi kesehatan yang demikian akan menjadi sumber stressor bagi pasien, sehingga dapat mempengaruhi konsep dirinya, begitu pula dengan kecacatan yang timbul akibat dari penyakit ini dapat mempengaruhi Citra Tubuh (body image) penderita tersebut. Perubahan fisik pada tubuh seseorang dapat menyebabkan perubahan citra tubuh, dimana identitas dan harga diri juga dapat dipengaruhi, sering menggangu peran, yang dapat mengganggu identitas dan harga diri seseorang.
Penelitian yang dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara menyatakan bahwa lebih dari 75% penderita kusta di Sumatera Utara mengalami gangguan citra tubuh (body image) berhubungan dengan penyakit Kusta (Zulkifli, 2003). Sementara di Sulawesi Selatan Selatan sendiri penelitian yang dilakukan oleh Astuti Ismasari tahun 2006 menyatakan bahwa 66.66% penderita kusta mengalami gangguan citra tubuh (body Image).
Dalam menghadapi permasalahan tersebut diatas diperlukan suatu mekanisme koping yang konstruktif dari pasien. Dengan mekanisme yang positif diharapkan pasien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki, menilai kemampuan diri yang dapat digunakan, membuat rencana sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, melaksanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, dan dapat memanfaatkan sistim pendukung yang ada. Penggunaan mekanisme koping yang positif pada penderita kusta yang mengalami kecacatan akan dapat membantu mengurangi permasalahan citra tubuh (body Image) yang muncul pada dirinya atau paling tidak dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terajadi padanya.
Berkaitan dengan masalah ini maka salah satu fungsi perawat sebagai konselor diharapkan mampu membantu permasalahan klien. Perawat dapat memberikan dorongan dan motivasi kepada klien ke arah pemecahan masalah. Dukungan perawat diharapkan akan dapat meningkatkan rasa percaya diri pada klien, sehingga klien mampu menerima keadaan tubuhnya sesuai dengan kondisi yang terjadi.
Selengkapnya silahkan download skripsi kesehatan terlengkap dan gratis dilink berikut Analisa hubungan body image dengan mekanisme koping yang digunakan pada pasien kusta di Rumah Sakit Dr.Taddjuddin Chalid Makassar

Password: 1ZX4wn7s

 

Rujukan: http://www.4skripsi.com/

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Gratis

Download Skripsi Kesehatan Terlengkap dan Gratis 

Gambaran pengetahuan perawat dan bidan tentang resusitasi jantung paru pada neonatus di RSIA Siti Fatimah Makassar  

Penyebab utama kematian neonatal pada umumnya adalah asfiksia lahir, pneumonia, dan infeksi. Pada asfiksia dapat menyebabkan serangkaian perubahan metabolic yang kompleks, terutama hipoksia jaringan, asidosis metabolic dan asidosis respiratorik (hiperkapnea). Jika ini bertambah parah akan menyebabkan penurunan fungsi organ yang paling kritis jantung, sehingga pada tahap lanjut dengan curah jantung yang sangat rendah, darah sirkulasi paru yang dioksigenasi oleh pemompaan paru, tidak mampu mencapai sirkulasi koroner untuk mengatasi hipoksia miokardium.
Menurut Gregory dalam Marjono (2007), Resusitasi diperlukan oleh neonatus yang dalam beberapa menit pertama kehidupannya tidak dapat mengadakan ventilasi efektif dan perfusi adekuat untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi dan eliminasi karbondioksida, atau bila sistem kardiovaskular tidak cukup dapat memberi perfusi secara efektif kepada susunan saraf pusat jantung dan organ vital lain. sehingga petugas kesehatan pun dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan resusitasi yang baik, benar, cepat, dan tepat untuk mencegah terjadinya kematian pada neonatus.
Dalam panduan American Heart Association and American Academy of pediatric (2005), Pengetahuan teknik resusitasi neonatus yang terdiri dari : (A. airway, awal langkah dalam stabilisasi (membersihkan jalan nafas, positioning, merangsang), B. breathing dengan menggunakan ventilasi tekanan positif, C. Cirkulasi dengan penekanan dada dan D. Drugs atau obat-obatan dan volume ekspansi), yang benar dapat membantu menurunkan kematian neonatal.
Optimis angka kematian bayi (AKB) bisa ditekan melalui pembekalan dan pelatihan resusitasi neonatus kepada perawat dan bidan ditanah air. Pembekalan resusitasi neonatus bagi perawat dan bidan bertujuan mencegah terjadinya kegagalan saat membantu proses persalinan baik itu di Rumah sakit maupun di klinik. Perawat dan bidan dalam hal ini perawat maupun bidan harus disiapkan untuk menghadapi kegawatan pernafasan secara efektif. Walaupun intervensi resusitasi jantung paru pada neonatus mirip dengan yang dilakukan pada orang dewasa, terdapat variasi untuk bayi dan anak-anak.
Selain itu kewenangan perawat dan bidan ini telah diatur dalam kebijakan rumah sakit standar prosedur dalam penanganan pasien neonatus, bayi dan anak yang mengalami kondisi kritis. Oleh karena itu perawat dan bidan harus mampu menguasai pengetahuan dan keterampilan resusitasi yang baik agar dapat melakukan tindakan resusitasi secara efektif terutama pada saat kritis untuk mencegah kecacatan atau kematian. Dari uraian tersebut tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk mengetahui “Gambaran pengetahuan perawat dan bidan tentang tehnik resusitasi jantung paru pada neonatus di RSIA Siti Fatimah Makassar”
Selengkapnya silahkan Download skripsi kesehatan terlengkap dan gratis dilink berikut Gambaran pengetahuan perawat dan bidan tentang resusitasi jantung paru pada neonatus di RSIA Siti Fatimah Makassar   

Rujukan: http://www.4skripsi.com/